Kelelawar Ternyata Predator Alami

Kelelawar ternyata bisa menjaga ekosistem. Demikian hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dirilis baru-baru ini.

Menurut Dr Siti Nuramaliati Prijono, Kepala Pusat Penelitian (P2) Biologi LIPI dalam siaran pers yang diterima mediaindonesia.com, kelelawar selama ini menjadi salah satu pemakan hama utama padi.

Dan sebagian besar kelelawar merupakan alat pengontrol biologi penyakit malaria dan Arthropods, yang dikenal sebagai penyakit ternak. Bahkan tidak jarang kelelawar jenis Megaderma spasma dapat digunakan sebagai pembasmi biologi hama tikus.

Pakar burung ini menyebutkan dari hasil penelitian di Kebun Raya Bogor, ditemukan fakta bahwa kelelawar telah menyerbuki lebih dari 52 jenis tumbuhan.

Dari hasil penelitian itu telah teridentifikasi tidak kurang 186 jenis tumbuhan tropis yang berguna sebagai tumbuhan obat, penghasil kayu, maupun sumber makanan. Sedangkan kehidupan dan penyebarannya tergantung pada jenis-jenis kelelawar dari kelompok Megachiroptera.

”Kelompok jenis ini merupakan pemakan buah tropikal hutan, dan membuang sepah bijinya jauh dari lokasi tumbuhan. Oleh karenanya kelompok ini dijuluki agen utama pemencar biji,” ujar Siti Nuramaliati.

Sebaliknya, lanjut Siti, kelelawar juga ditengarai dapat membawa penyakit Zoonosis, seperti rabies, hendra, dan nipah, yang telah membunuh 40% manusia yang terjangkiti.

Perlu diketahui penyakit Nipah pertama kali ditemukan di Malaysia, dan telah membunuh 105 manusia. ‘Ratusan babi dimusnahkan karena virus penyakit ini tersebar ke manusia dari hewan tersebut.

Dalam kesempatan sama, peneliti P2 Biologi Profesor Ibu Maryanto menambahkan saat ini koloni besar kelelawar yang menghuni goa-goa batu kapur rentan terhadap gangguan.

”Perubahan yang ditimbulkan akibat ulah manusia akan mempengaruhi kehidupannya,” sambungnya.

Apalagi saat ini eksploitasi batu kapur untuk memenuhi keperluan industri, berdampak dengan banyaknya goa-goa kapur dihancurkan di hampir seluruh kawasan karst di Indonesia.

Inilah yang menjadi salah satu penyumbang punahnya beragam jenis kelelawar di Indonesia. Hal itulah menjadi bagian pemikiran para ahli kelelawar yang hari ini 6 Juni, hadir dalam konferensi internasional kelelawar Asia Tenggara ke-2, yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat.

Sejumlah pakar datang dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Singapura, India, Cina, Jepang, Taiwan, USA, Kanada, Inggris dan Australia, membahas segala aspek tentang kelelawar.

Kepala LIPI Lukman Hakim berharap pertemuan para pakar ini bisa memberikan solusi untuk penyelamatan kelelawar dari kepunahan.

sumber: mediaindonesia.com

About indopoints

indonesia cerdas indonesia berwawasan

Posted on Juni 6, 2011, in Tahukah anda. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: